Monday, January 12, 2009
week36: another day with that bastard

Senin, 5 Januari 2009
ride with: Frankie
morning ride: Mampang Prapatan-Tegal Parang-Pancoran-Jl. MT Haryono-Tebet Barat Dalam XIII
evening ride: Tebet Barat Dalam XIII-Pancoran-Jl. Gatot Subroto-Tegal Parang-Mampang Prapatan
Pagi ini aku bikin sendiri cable stop buat rem depan Frankie. Nggak juga sih, melibatkan tukang las, tentu saja. Sialnya, ternyata cukup menyita waktu dan tenaga... akhirnya selesai juga, dan jam sebelas aku berangkat. Berarti bukan morning ride, tapi midday ride... hehehe.

Cable stop ini kubuat dari potongan bekas pipa steertube fork ukuran 1 1/8", pelat 5mm yang dilas ke potongan pipa di satu ujungnya dan dilubangi di ujung yang lain, serta mur 10mm yang dilas di lubang tadi.
Sempat mengalami kesulitan karena steertube Frankie ukurannya agak nggak standar... tapi bisa diatasi dengan bantuan kikir, kok.
Review-nya gimana?
Sheldon Brown bener. Kayak yang
udah dijelasin di sini, yang paling sesuai dipadukan dengan short-pull lever kayak brifter Sora yang kupakai ini memang kalo nggak caliper brake, ya cantilever brake. Sekarang, Frankie bener-bener bisa dipake endo! Leverage-nya pas, nariknya nggak berat, dan yang penting... pakem!
Di perempatan Pancoran, sempat ditegur orang yang naik pickup L300 di sebelahku. "Groupsetnya apa, Mas? XTR? XT?" Wah, ngejawabnya gimana ya, ini kan campuran. Udah gitu, Frankie kan sama sekali bukan MTB. Akhirnya, "105, Pak," jawabku. "Bagus itu... yang penting kan endurance kakinya..." dan setelah itu dia sibuk ngebahas betapa di Jakarta nggak kayak di luar negeri, ada jalur sepeda, dan seterusnya, dan seterusnya. Aku senyum-senyum dan menyapanya ramah sebelum ngacir belok ke kanan waktu lampu berubah hijau.
Pertanyaannya, apakah bapak tadi sama kayak orang Indonesia pada umumnya, yang silau ngelihat groupset (terdengar dari komentar "yang penting kan endurance kakinya", yang buatku bernada seperti "yang penting kan dengkulnya...", aku yakin dia ngira 105 itu nggak lebih bagus dari Alivio)? Dan kalopun tadi kujawab kalo groupset-nya Ultegra (hei, aku nggak bohong, cassette yang kepasang di Frankie kan memang Ultegra!), apa dia ngerti kalo Ultegra itu XT-nya groupset roadbike? Ah, atau lebih singkat lagi, apa dia tau kalo 105 itu hampir sama kayak LX-nya MTB?
Ah, udah lah... yang jelas dengan rem pakem kayak gini, aku jadi makin yakin nyelip-nyelip di antara taksi. Hehehe...
Bulan depan, beli kabel rem buat ngegantiin kabel rem depan yang kependekan, sama brakepad buat ngegantiin pad LX yang masih kepasang di depan. Sayang, bo'... brakepad vintage, hehehe.
Pulangnya aku mutusin untuk lewat Tegal Parang aja, soalnya udah kepengin nyampe rumah dan ketemu Reyhan lagi. Dan ada kerjaan.

Le temps passe, et chaque fois qu'il y a du temps passe, il y a quelque chose qui s'efface.
Waktu berlalu, dan tiap kali waktu berlalu, sesuatu terhapuskan.
Tapi bagaimana bila sesuatu yang hampir sempurna terhapuskan itu mendadak muncul kembali?

Selasa, 6 Januari 2009
ride with: Frankie
morning ride: Mampang Prapatan-Tegal Parang-Pancoran-Jl. MT Haryono-Tebet Barat Dalam XIII
day ride: Tebet Barat Dalam XIII-Jl. Tebet Raya-Jl. Dr. Saharjo-Jl. Tambak-Jl. Proklamasi-RSCM-Jl. Inspeksi Kali Ciliwung-Jl. Proklamasi-Jl. Tambak-Jl. Dr. Saharjo-Jl. Tebet Barat Dalam-Tebet Barat Dalam XIII
evening ride: Tebet Barat Dalam XIII-Pancoran-Jl. Gatot Subroto-Tegal Parang-Mampang Prapatan
Spokecard kebanggaan bangsa akhirnya terpasang lagi di belakang, hehehe.

Aku kepikiran untuk nyoba ganti dropbar yang katanya
"anatomic bend", nggak melengkung sempurna kayak punyaku sekarang ini, tapi di bagian drop-nya agak lurus dulu. Aku sempat lihat di D'Best kemarin sore. Berarti kalo ganti setang, kayaknya harus ganti stem juga (soalnya kayaknya handlebar anatomic itu lebih pendek reach-nya, bukan lebarnya, dibanding traditional drop yang kupunya), dan yang udah pasti ganti adalah handlebar tape dan kabel rem depan.
Langit Jakarta kayaknya udah kembali rada normal, karena di utara aku lihat awan hitam sudah mulai menggantung. Wah, mudah-mudahan hujannya nggak siang-siang amat... hari ini aku harus ke RSCM.
Tapi harapanku punah sudah saat hujan akhirnya mulai turun jam sebelas siang. Hhhhh. Alhamdulillah aku bawa celana pendek cadangan... tapi messenger bag-ku kan belum dites waterproof apa enggak.
Nah, kan. Baru nyampe Tebet Raya, gerimis. Makin lama makin deres. Alhamdulillah, sampe Saharjo udah terang... bahkan di depan Balai Sudirman sempat
skitching sebentar.
Skitching? Iya. Hobi baru yang seru setelah aku pake dropbar... karena dropbar jauh lebih sempit dari MTB, jadinya pegangan di bodi mobil boks, metromini, atau truk sampah jadi gampang. Hehehe.
Mau nyobain juga? Ada beberapa tuntunannya...
di sini. Peringatan: segala resiko yang terjadi juga bukan tanggunganku... jadi, skitching-lah dengan aman, dan jangan maksain. Hehehe.
Yang jelas, aku harus beli gloves... skitching tanpa gloves, beresiko tangan kebeler macem-macem, udah gitu nggak nyaman sama sekali.
Balik ke messenger bag, ternyata cukup waterproof. Nggak tembus air. Tapi lain kali kalo harus hujan-hujanan, mendingan dibungkus bag cover aja... sayang kalo kotor.
Habis nganter file ke RSCM, kemas-kemas lagi... balik lagi ke Tebet, ninggalin titipan, terus cabut pulang.
Berasa messenger betulan deh, hehehe.

Rabu, 7 Januari 2009
ride with: Frankie
morning ride: Mampang Prapatan-Tegal Parang-Pancoran-Jl. MT Haryono-Tebet Barat Dalam XIII
evening ride: Tebet Barat Dalam XIII-Pancoran-Jl. Gatot Subroto-Tegal Parang-Mampang Prapatan
Subuh-subuh aku dibangunkan oleh suara hujan. Oooo, akhirnya Jakarta balik hujan lagi. Karena udah deket-deket Imlek, kali. Dan hasilnya, karena semalem aku lupa masukin Frankie ke teras, jadinya aku punya kewajiban nyuci. Sekalian aja nyuci Fatboy, yang sejak dipake ke RA kemarin masih belepotan lumpur.
Sepatuku juga, sih. Besok Sabtu aja, lah.
Waktu iseng buka-buka
arsip blog-ku yang lama, aku baru inget kalo dulu pernah punya nadzar, begitu anakku lahir aku mau ngerakit roadbike. Well, kesampaian, deh. Biarpun bukan murni roadbike, seenggaknya mirip, lah. Hehehe.
Om Hendry nelepon aku agak siang, nanyain soal FD Deore XT lama. Itu, M737 yang kita berdua lihat di D'Best kemarin. Dia bilang, kalo ada satu dia nggak beli, tapi kalo ada dua dia mau beli dua-duanya... satunya buat aku, katanya "Buat compliment, daaah..." Wah, kalo gitu sih siapa yang nolak, hehehe... Makasih banyak, Om!
Balik soal telepon Om Hendry. Dia bilang, FD yang clamp-nya 34,9mm kayak yang kita lihat kemarin itu cuma ada satu. Kalo clamp-nya gede gitu, berarti harus pake semacam shim biar bisa kepasang di Federal. Ada sih stok lain, dua biji, dan ternyata... "Ukuran clamp-nya kecil, Ngga." Dan setelah dicek, ternyata ukuran clamp-nya 28,6mm, pas buat Federal!
Jadilah Federal kita kembaran drivetrain. Shifter-nya sama (ST-M739), RD sama FD belinya barengan (FD-M737 sama RD-M739), terus cassette-nya sama-sama Alivio CS-HG50-8. Dan yang seru, ini berarti FD 100GS yang kepasang di Frankie bisa dituker pake Deore LX M550 lungsuran Blacksie. Asyiiiik!
Sekilas soal clamp FD, secara umum tersedia lima jenis. Tiga jenis pertama adalah tipe clamp-on (band-type), yang modelnya nge-clamp ke pipa seattube. Yang membedakan tiga tipe ini adalah diameter dalamnya, yaitu 28,6mm, 31,8mm dan 34,9mm. Shimano membedakan lagi tipe clamp ini sebagai high clamp (posisi yang umum ditemui baik di FD roadbike maupun MTB, posisi clamp-nya lebih tinggi dari chainring terbesar bila dilihat dari samping) dan low clamp (posisi clamp rendah, biasanya untuk mengakomodasi posisi sistem linkage suspensi pada sepeda MTB. Clamp lebih rendah dari chainring terbesar bila dilihat dari samping).
 
Jenis yang keempat, adalah direct mount, bisa dipasang tanpa clamp. Direct mount sendiri bisa dibedakan lagi, antara braze-on (langsung terpasang pada dudukan yang nempel langsung ke frame. Dudukan tersebut bisa dilem atau dilas, pokoknya jadi satu kesatuan dengan frame) dan bolt-on (dipasang pada dudukan khusus yang dibaut ke frame, biasanya dudukan tersebut terdapat di chainguide). Yang bolt-on ini masih baru-baru ini mulai digunakan, dipopulerkan oleh jajaran sepeda-sepeda FR/DH bikinan Specialized. Sedangkan yang braze-on populer digunakan di roadbike, walaupun dulu sepeda-sepeda Alpinestars bikinan '90-an banyak dijumpai menggunakan FD Deore DX dengan sistem begini.
Yang di kiri ini direct mount MTB jaman sekarang, yang di kanan adalah FD model braze-on.

Yang kelima, biasa disebut E-Type. Cuma Shimano yang buat. Pada sistem ini, dudukan FD adalah sebuah braket yang diikat bersamaan dengan bottom bracket shell, sehingga untuk melepas FD harus melepas BB-shell sebelah kanan juga.

Boleh dibilang, FD direct mount MTB adalah FD E-Type yang pegangan ke BB-nya
dilepas, dan langsung dibaut ke frame.
Kelemahan dari sistem non-clamp, adalah pengaturannya yang terbatas. FD model clamp lebih akomodatif terhadap ukuran chainring yang "nggak standar", maksudnya nggak sesuai dengan ukuran yang seharusnya dipasangkan dengan FD yang seharusnya. Kalo chainring-nya lebih gede, ya tinggal geser posisi pemasangan clamp di seattube-nya lebih ke atas, begitu pula sebaliknya.
Sesampainya di rumah sepulang dari kantor, segera kupindahin itu FD dari Blacksie. Langsung plek, setting juga nggak banyak masalah. Berarti nanti, setelah tidur panjangnya yang cukup lama, Blacksie langsung berturut-turut dapet drivetrain baru: RD, FD sama rantai sekaligus!
Lha terus kepikiran, apa sekalian aja kuambil flatpedal Deore DX yang kulihat di tokonya Koh Weimin kemarin, ya? Pedal lho, bukan crank... biar makin retro. Atau yang Deore LX? biar nemenin v-brake LX-nya, satu-satunya barang non-vintage di jajaran groupset-nya Blacksie...

Kamis, 8 Januari 2009
ride with: Frankie
day ride: Mampang Prapatan-Tegal Parang-Pancoran-Jl. MT Haryono-Tebet Barat Dalam XIII
evening ride: Tebet Barat Dalam XIII-Pancoran-Jl. Gatot Subroto-Jl. Tendean-Mampang Prapatan
Berangkat siang. Ah, senangnya.
FD LX yang kupasang kemarin kuuji performanya. Masih ada salah setting sedikit di stop screw H-nya, jadi agak bunyi waktu dipake di gearing yang berat. Tapi secara keseluruhan, mantap.
Sempat ada kekhawatiran apakah chainring bakal mentok ke cageplate, mengingat FD ini kan aslinya buat chainring yang maksimal 48T. Ternyata enggak, meskipun lengkungan sisi bawah cageplate-nya persis mepet banget ke gigi chainring 52T-nya.

Ini dia keuntungan FD tipe clamp-on, kalo FD E-type atau direct mount pasti akan kerepotan karena posisi pemasangannya nggak bisa digeser ke atas.
Ngomong-ngomong soal itu, berarti ada lagi yang geser, hehehe. Kalo sebelumnya kelas part yang nempel di Frankie yang paling rendah adalah 100GS (yah, sekelas Altus, lah), berarti sekarang jadi Deore atau Sora, tergantung dilihat dari sudut pandang groupset MTB atau roadbike.
Kepikir untuk ganti hub depan, biar sama-sama Tiagra kayak yang belakang... tapi mungkin nggak juga, soalnya
Kona Jake the Snake 2006 yang kujadiin contekan, hub depannya Deore silver. Makanya, begitu punya niat bakal ngebangun sepeda cyclocross, yang kepikiran pertama kali adalah hub Deore silver itu. Dan kok ya dapet, dari Om Fachril.
Alasan yang sungguh aneh, hehehe.
Sempat kehujanan, sepulang dari bikin cutting sticker baru buat dipasang di seatstay. Seenggaknya terbukti kalo messenger bag-ku ini waterproof, lah.

Jumat, 9 Januari 2009
ride with: Frankie
morning ride: Mampang Prapatan-Tegal Parang-Pancoran-Jl. MT Haryono-Tebet Barat Dalam XIII
evening ride: Tebet Barat Dalam XIII-Pancoran-Jl. Gatot Subroto-Tegal Parang-Mampang Prapatan
Akhirnya selesai juga baca semua seri Harry Potter yang ada di rumah. Udah sejak kemarin pas liburan, karena nggak banyak hal yang menarik yang bisa dikerjakan di rumah waktu Reyhan tidur sementara istriku ngantor. Udah lama aku males nonton TV. Tinggal yang "and the Goblet of Fire" aja, soalnya cuma seri yang itu nggak ada di rumah.
Oh iya, ini hasil cutting sticker kemarin. Menurutku yang menarik sih yang nempel di seatstay sebelah kiri, sedangkan yang kanan hanyalah usaha untuk memunculkan simetri tanpa harus melakukan pengulangan. Hehehe.

Detailnya lumayan ribet, soalnya huruf-hurufnya kecil-kecil. Makanya, biar terlindung dan nggak gampang rusak, setelah ditempel stiker-stiker ini ditiban clearcoat beberapa lapis.
Terus pulangnya main dulu ke Pasfes, dan setelah ngelihat bahwa di sana nggak ada siapa-siapa, aku langsung ke Senayan.
Dan di sini ponsel CDMA-ku hilang.
Damn.
Setelah sebelumnya photo session sore-sore buat kepentingan blog gallery-ku gagal, what's happened here completely ruins my day.
Makanya habis itu langsung pulang.

Sabtu, 10 Januari 2009
ride with: Frankie
morning ride: Mampang Prapatan-Kuningan-Jl. HOS Cokroaminoto-Jl. Sutan Syahrir-Gondangdia Lama-Jl. Surabaya-Jl. Diponegoro-Masjid Sunda Kelapa-Jl. Sultan Agung-Kuningan-Mampang Prapatan
Kayak pernah tau rute ini, di mana ya... hehehe. Iya. Ini nostalgic route, hehehe.
Tadinya pagi ini mau main ke JPG, dari Cinere. Ternyata ada masalah dengan saluran kencingnya Reyhan, jadi dia harus cek urine ke laboratorium. Batal deh... tapi nggak juga, kan ada morning road session. Dan ternyata nggak seberapa siang terus hujan deres... Untuk pemeriksaan urine itu, kita perlu punya pediatric urine bag. Dan karena kantong khusus untuk nampung air seni bayi itu cuma tersedia di
rumah sakit tempat Reyhan lahir dulu, ya berarti aku harus ke sana... dan kuputuskan untuk barengan sama Frankie aja, soalnya sebelumnya aku belum pernah ke rumah sakit yang deket sama kantorku dulu itu dengan sepeda paling nunduk di garasi rumahku itu.
Yang paling banyak berubah adalah flyover baru di ujung HR Rasuna Said. Lebih lebar dari flyover yang lama (yang masih bertahan di sebelahnya), lebih tinggi... dan tanjakannya lebih panjang. Sialnya, turunannya (kalo dari arah Mampang) malah lebih landai... jadinya nggak bisa ngebut-ngebut amat. Lengkaplah penderitaan. Untungnya masih ketolong bagus dan lebarnya jembatan baru itu. Karena masih baru kali, ya.
Habis beli urine bag, mampir bentar ke tukang jualan bubur langgananku di deket kantorku dulu. Aaaah. Nostalgia. Dan karena laper, hehehe.
Pulangnya sempat kepikir untuk foto-foto di jembatan baru ini... dan menurutku jembatan ini juga punya nilai sejarah, soalnya di sinilah pertama kalinya aku denger kabar hadirnya Reyhan di dunia. Iya, di sinilah aku nerima telepon dari ibu mertuaku soal lahirnya Reyhan, sementara aku berkutat di tengah kemacetan Jakarta sore hari dalam perjalanan ke rumah sakit...

Minggu, 11 Januari 2009
ride with: Frankie
morning ride: Mampang Prapatan-Kuningan-Jl. HOS Cokroaminoto-Jl. Sutan Syahrir-Gondangdia Lama-Jl. Sutan Syahrir-Jl. HOS Cokroaminoto-Kuningan-Mampang Prapatan (twice!!)
Gagal ambil urine sample. Yang keluar terlalu sedikit, udah gitu bocor, lagi. Akhirnya terpaksa beli lagi... yah, itung-itung morning ride, lah. Dan foto-foto di jembatan! Hehehe.
Kok morning ride-nya dua kali?
Iya. Yang pertama, paginya, kan buat beli urine bag (lagi). Begitu nyampe di jembatan, ternyata aku lupa bawa memory card! Damn.
Dan yang kedua... ternyata, nggak seberapa lama setelah dipasangi urine bag, Reyhan pipis. Alhamdulillah. Lumayan banyak, memenuhi syarat untuk diperiksa di laboratorium, lah. Nggak nunggu lama, segera nyiapin Frankie untuk sesi morning ride kedua... dan kali ini, aku nggak lupa bawa memory card, hahaha!
Hasil narsis-narsisannya
bisa dilihat di sini... hehehe.
Soal hasil lab-nya Reyhan... alhamdulillah sih mayoritas normal. Ada sih, yang nilainya di atas rujukan. Untuk itu besok Senin kita harus ke dokter...

Posted at 08:42 pm by rangga_phreak
Make a comment  

Sunday, January 04, 2009
week35: pivot points

Rabu, 31 Desember 2008
no ride
Beberapa hari yang lalu aku nitip beliin RD Deore XT M739 sama Om Hendry. Barangnya sendiri ada di Bandung, kebetulan Om Hendry lagi liburan ke sana.
Jadi deh, kita kembaran RD. Hehehe.
Siang ini, setelah ngambil file ke sekolah istriku, kita mampir sejenak ke kantor Om Hendry untuk ngambil RD. Setelahnya kita ke Fatmawati, beli cantilever brake set. Lumayan, dapet satu set (depan-belakang) Deore LX lawas (BR-M565), dari kode produksinya ketauan kalo bikinan '94.
Oh iya, Reyhan udah agak mendingan. Batuknya cuma kalo pagi-pagi. Seharian dia keliatan lemes gitu, tapi mungkin itu karena obat batuknya.
Dan sisa hari (dan tahun 2008) kuhabiskan dengan mengira-ngira posisi brake pivot yang pas sebelum nantinya dilas. Dengan ini berarti aku harus ngecat lagi, tapi nggak papa lah. Demi safety. Daripada ngerem pake pantat metromini...
Malemnya, aku nggak bisa tidur. Pertama, karena nunggu download film. Kedua, karena tetanggaku nggak ada henti-hentinya nyalain kembang api.
Dan saat itu pun datang juga, seluruh Jakarta serentak nyalain kembang api. Mulai dari yang ecek-ecek beli di pinggir jalan, sampe yang ngedatengin ahli pyrotechnic khusus. Berisik di telinga, tapi memukau di mata.
Jadi inget malam tahun baru 2006, waktu aku masih sendirian di kontrakan. Bisingnya bukan main. Aku males keluar untuk ngelihat, karena percuma juga... nggak kelihatan, kan. Malam tahun baru 2007 kulewatkan di perjalanan dari Malang ke Jakarta, dan tahun depannya aku lewatkan begitu saja. Tidur!
Baru tahun inilah aku bisa lihat pesta bakar-bakar uang tahunan ini dari balkon rumah.
Kebayang pemandangan di saat yang sama dengan sekarang, tapi di Jalur Gaza di Palestina. Ada kebyar-kebyar di angkasanya dan bunyi letusan-letusan yang mirip, bedanya di sana cahaya yang menerangi langit malam berasal dari sisa-sisa bangunan yang terbakar dan jejak yang ditinggalkan roket atau rudal, dan setiap dentuman berarti ada satu lagi bangunan yang meledak, dan ada lagi korban jiwa yang jatuh.
Aku nggak habis pikir, gimana bisa ada yang bakar-bakar uang di sini sementara di sana banyak orang yang tiap detiknya selalu dibayangi kekhawatiran untuk terpisah dari orang-orang yang mereka cintai?
Bukan bermaksud pesimis... hanya mencoba untuk sedikit berempati.
Dan tanggal 1 Januari 2009 pun kumasuki dengan kantuk yang akhirnya sudi untuk singgah setelah jam 3 pagi, dan tambahan beban di pikiran.
No celebration here, guys.

Jumat, 2 Januari 2009
few ride (and walk) to the weld shop with Frankie
I managed to punch a hole on Frankie's rear tire.

Ceritanya, ban belakang yang udah sangat tipis itu akhirnya menemui ajalnya setelah aku melakukan sebuah pengereman panjang yang membuat ban belakang itu terseret sejauh 8 meter di aspal. Sepedanya sih berhenti akhirnya, dengan umpatan.
Bannya bolong, tembus ke ban dalamnya!
Ah, sudah lah... mungkin ban belakang sering keseret karena rem depannya nggak pakem. Jadinya kalo mau berhenti ya maksa...
Akhirnya sih brake pivot belakang kepasang juga di seatstay, dengan tambahan cable stop-nya yang harus digeser ke atas biar nggak mentok ke cable yoke saat ngerem.

Setelah ngecat, kerjaanku nambah lagi... pergi ke tukang tambal ban untuk nambal ban dalam yang bolong sebesar 5mm itu. Terus nambahin potongan bekas botol plastik buat nambal ban luarnya, supaya ban dalamnya nggak nonjol keluar. Makanya di tengah lubang di foto atas itu ada plastiknya.
Nambah lagi deh, belanjaannya.

Sabtu, 3 Januari 2009
Lagi-lagi ke tukang las. Sialnya, tukang las langgananku malah tutup. Wah, padahal kerjaannya rapi. Akhirnya pergi ke tukang las lain yang, sialnya, kerjaannya nggak serapi langgananku.
Lebih apes lagi, aku matahin baut di dalam pivot yang sebelah kiri. Sial. Akhirnya pivot-nya kupotong lagi, terus ngambil pivot baru yang dikanibal dari salah satu fork bekas yang ada di rumah. Hhhhhhhh.
Pindah tukang las lagi, soalnya tukang las yang tadi pagi cuma buka setengah hari. Celakanya, tukang las yang ketiga ini malah lebih parah lagi kerjaannya... akhirnya aku yang kerja keras ngerapiin bekas las-lasan pake kikir.
Dan ada satu yang kelupaan: cable stop untuk rem depan! Aduh. Harus nyari dulu, nih...

Minggu, 4 Januari 2009
Akhirnya setelah separuh siang kuhabiskan dengan bermain bersama Reyhan yang sekarang udah nggak batuk (asyiiiiik...), aku berangkat juga nyari cable stop. Duh, Reyhan dan istriku memang alasan yang baik untuk nggak meninggalkan rumah...
Nyetir ke D'Best, Fatmawati. Nyetir? Iya, siang ini memang panas banget. Sama kayak beberapa hari sebelumnya, langit Jakarta luar biasa biru! Terik dah.
Dan siang ini aku nyesel kenapa bawa mobil.
Kemarin, aki mobilku dipinjem adikku buat nyalain mobilnya, karena aki mobilnya soak. Dan ternyata aki mobilku pun nggak lebih baik, karena mobilnya akhirnya nggak bisa distarter lagi waktu dibawa pergi. Terpaksalah dia beli aki baru, dan aki mobilku dibalikin lagi. "Aki mobilmu juga soak lho, Mas," kata adikku memperingatkan.
Karena ternyata mobilku bisa distarter, aku langsung aja ngeloyor pergi ke Fatmawati.
Dan ternyata bener, waktu aku mau jalan lagi setelah nggak nemuin cable stop di D'Best, mobilku sama sekali nggak bisa distarter.
Damn.
Beberapa saat kemudian aku udah jalan kaki di sepanjang trotoar Jl. Fatmawati, panas-panas, berharap ada toko aki yang buka. Alhamdulillah aku mogok di sekitar sini, yang terkenal sebagai salah satu pusat jual beli onderdil mobil. Tapi ini kan hari Minggu...
Alhamdulillah, ada yang buka. Penjaga tokonya malah nganterin aku balik ke D'Best naik motor, dan mau masangin akinya sekalian.
Eh, sewaktu mendekati tempat parkirku... kok itu ada Katana putih yang biasa mampir di rumahku? Bener aja, nggak lama kemudian aku udah salaman sama Om Hendry. Kok bisa ya, ketemu di sini... "Iya, aku nganterin istriku ngebenerin HP, terus lihat mobilmu di situ," katanya.
Habis itu kita ngobrol-ngobrol, melototin seluruh isi etalase toko... dan nemuin FD XT lama, FD-M737. Clamp 34,9mm. Bisa nih... tapi mungkin nanti lah, kalo udah ada duit. Selain itu ada juga FD Shimano STX, tapi kayaknya nggak berhasil membangkitkan minat. Iya, kan udah punya LX yang nggak kalah jadulnya...
Habis itu ke Kebayoran, dan cable stop yang kucari tetep nggak ketemu. Halah. Kalo gini sih berarti harus bikin sendiri...
Mampir bentar ke Pondok Indah, beli ban dalam buat ngegantiin yang kepasang di Frankie. Sama sepasang pad buat cantilever brake (sial, ternyata 3 dari 4 brakepad LX yang kubeli adalah buat rem depan!). Ban luarnya nggak ada di sini... jadinya sebelum pulang aku jalan dulu ke SCBD, untungnya di sini ada.
Sesampainya di rumah, udah jam 4 sore. Ah, mau ngelas juga udah nggak sempat... besok aja kali, ya.

Posted at 07:12 pm by rangga_phreak
Make a comment  

Next Page

Blogdrive