Wednesday, May 14, 2008
the Denpasar sessions

Ini catatan yang berserakan selama sebulan di Denpasar. Nggak ada yang istimewa, terutama karena jarak dari kos-kosanku ke kantor cuma lima menit... jalan kaki! Banyak bayangan yang udah tertanam sejak dari Jakarta yang buyar. Boulevard of broken dreams, hehehe.

Hari pertama, 31 Maret 2008. Sejak bangun pagi udah ada rasa berat ninggalin rumah. Tapi segera kuhapus, karena memang harus berangkat. Belum ada gambaran sama sekali soal kondisi sana, tapi semua udah siap. Bahkan peralatan bengkel kelas menengah kayak chainwhip, kunci Hollowtech II sama kunci cassette+kunci pas 24mm kubawa serta.
Sempat kufoto sang Urban Legend yang sudah hampir jadi, fork oversize-nya bersarang di headtube-nya. Aku akan kembali untuk menyelesaikan ini, batinku.

Setelah subuh, berangkatlah kita dari rumah. Diantar sekeluarga. Sepanjang jalan, nggak henti-hentinya kulirik istriku yang duduk di sebelahku. Dia senyum, terus tanganku digenggamnya. Sepanjang jalan. Antara berusaha menguatkan perasaanku yang galau dan menahan rasa sedih karena akan ditinggal, kurasa.
Boarding. Bawaan yang overload 15kg ini cukup bikin heboh, hehehe... bayar biaya overload, cukup buat beli satu set kaliper M475 baru... ya udah lah, there will be something from this, anyway.
Lari ke gate, karena memang hampir terlambat. Sial, dari semua bawaan yang bisa kupilih untuk kumasukin kabin, yang kubawa koper isi buku yang nggak ada rodanya. Terpaksa kuangkat sepanjang jalan... lumayan juga, sih.
Nice flight. That's all. Nothing's special about it.

Nyampe. Dijemput. Keliling sebentar, lihat-lihat kantor, terus diantar ke kos-kosan. Impian pertama buyar: kos-kosanku cukup mahal (sepertujuh gaji, hiks...), tapi kosongan, nggak ada perabotnya. Ah, kalo gini sih mending di rumah... belum-belum, rasa kangen sudah mendekap. Belum terlalu erat, tapi cukup terasa.
Sampai di kamar, segera aja kardus besar dibongkar. Nggak sampai setengah jam, Fatboy udah berdiri lagi dengan gagahnya. Puas. Nggak sengaja pandangan mata beradu ke kardus kosong bekas packing Fatboy. Teringat saat siang hari berdua dengan Aisyah, bikin kardus ini sambil ditemani celoteh riangnya. Nggak terasa air mataku meleleh... bahkan sekarang, saat kuketik tulisan ini, mataku mulai terasa hangat.
Telepon istriku, ngabarin kalo udah nyampe. Suaranya terdengar seperti biasa, tapi ada yang salah denganku. Aku nggak bisa nahan tangisku, terutama karena kardus tadi, hehehe...
Setelah ashar, kupikir ada bagusnya kalo Fatboy kutes keliling. Ternyata malah nyasar. Setelah tiga-empat kali keliling lapangan Niti Mandala Renon, akhirnya aku temukan lagi jalan pulang. Hah! Insting "manual GPS"-ku nggak bekerja di sini.
Malam pertama hanya ditemani Fatboy, sebuah koper pakaian, sebuah koper penuh buku, kardusnya Aisyah, kasur pinjeman (yang biaya sewanya lumayan mahal...) dan satu ransel laptop, rasanya sepi banget. Teringat keluargaku lagi. Lagi pada ngapain, ya? Pada makan apa hari ini? Apa Aisyah udah mulai nyariin Om Pet-nya?
Kubuka Al-Quran yang sempat kuambil dari kamar sebelum berangkat. Kubaca beberapa 'ain. Sangat membantu. Akhirnya kuniatkan, aku harus lebih dekat kepada Allah selama ada di sini. Allah menciptakan rasa sepi, dan hanya Allah yang mampu menyingkirkannya dari hatiku. Innallaha ma'ash shaabiriin.

Satu April 2008, hari pertama ngantor. Adaptasi di lingkungan baru. Belum ada acara ngajar. Nggak ada yang spesial, menjelang maghrib aku balik lagi ke kos-kosan. Datar banget, ya.
Sembari mengharap ridho Allah, setelah sholat maghrib kuraih lagi Al-Quran di atas koper dan kubaca. Subhanallah. Allah memang sebaik-baik pemberi pencerahan. Saat itu jugalah kuniatkan, setiap hari aku harus khatam satu juz. Hanya dengan ini kuperoleh ketenangan hati dan rasa dekat kepada Allah.
Rencananya, hari ini istriku pergi ke dokter untuk memeriksakan kandungan. Nggak lama, ada kabar... anak kita laki-laki! Wah, jadi nggak salah kalo selama ini kita manggil janin yang ada di perut istriku dengan panggilan Mas Rey, hehehe... Nah, saat kita telepon-teleponan itu, ada suara kecil memanggil, "Om Pet! om Pet!" Itu Aisyah...
SMS selanjutnya dari istriku yang makin bikin aku sedih... "Aisyah kangen sm kamu mas.makanya aku ngajak ngomong.kemaren dia nunjuk2 bajumu sambil bilang 'om pet,om pet'.sembik,lulsie (panggilan sayangku untuk istriku, Red.) jadi sedih.kangen dus!"
Kuteruskan tadarusku. Innallaha ma'ash shaabiriin...

2 April. Hari ini nggak ada kelas pagi. Kumanfaatkan untuk pemetaan singkat, di mana ATM BCA, Bank Niaga dan Bank Mandiri terdekat. Ya jelas lah, harus pake acara kesasar lagi. Yang jelas ketemu di mana kantor cabang Bank Niaga dan BCA, sama dalam proses nyasarku aku berhasil nemuin Bank Mandiri... tapi yang jelas kalo disuruh ngulangin lagi jalan ke Bank Mandiri, aku sama sekali nggak bisa, hehehe.

Setelah itu, hampir nggak pernah aku naik sepeda lebih jauh dari 5km. Cuma dari kos-kosan ke kampus, kampus ke warung (alhamdulillah ada warung langganan, yang punya orang Jawa, muslim pula, dan yang paling penting, enak dan murah!), sama warung ke kos-kosan lagi. Intinya boring, lah. Dan kultur cycle commuting di sini memang nggak berkembang. Di mana-mana motor! Yah, meskipun pengendara motornya jauh nggak sebrutal Jakarta, dan meskipun di Jakarta aku tergolong solo rider, belum pernah aku ngerasa sekesepian ini. Serius.

Oh iya. Jumatan pertama di tempat ini. Ada masjid di Gedung Keuangan Negara, dekat Lapangan Niti Mandala. Nggak jauh, sih. Tadinya mau naik sepeda, tapi karena udah ada yang mau ngebarengin, ya udah, bareng aja sama temen kantor. Nah, di sini yang heboh. Allah ngasih aku petunjuk. Waktu nunggu imam naik ke mimbar, aku lihat ada orang nuntun sepeda terus disandarin ke tembok. Mataku nggak salah lihat. Rotor belakang 5-spoke itu... itu pasti XT atau XTR baru! Dan sepedanya, aku nggak ngelihat merknya... tapi kalo bukan Polygon Collosus, mungkin Intense atau malah Santa Cruz Blur. Kemungkinan yang terakhir bisa jadi bener, soalnya warna biru muda itu... Santa Cruz banget!
Sayang nggak sempat nyamperin untuk kenalan...

Kembali ke kegiatan tiap hari. Semakin hari, semakin nyata bahwa aku nggak cocok di sini. Perbedaan kultur, cara pandang orang tentang banyak hal, batasan benar salah... semua beda. Mungkin akan lebih baik kalo istriku di sini... atau mungkin juga enggak? Lagipula, hidupku, segala yang telah kubangun, teman-teman, reputasi, pergaulan, semua ada di Jakarta...
Dan memang, dalam kehidupanku ada sebuah kondisi yang mungkin mengharuskanku untuk tetap mendampingi keluargaku di Jakarta. Hal inilah yang makin membuatku berpikir... apakah semua rasa sepi, ketidakcocokan, kesedihan ini adalah adzab dari Allah karena ketakaburanku meninggalkan Jakarta, dengan segala kelebihan dan permasalahannya?

Ulang tahunku. 18 April 2008. Jumat.
Alhamdulillah, sejauh ini nadzarku terlaksana dengan baik. Malah mungkin over target, karena memang sungguh nikmat membaca Al-Quran. Jadi sering kulebihkan, kadang bisa satu hari aku selesaikan satu setengah, bahkan pernah dua juz sekaligus. Dan di sinilah aku lebih sering sholat sunnah, karena dengan cara apa lagi aku bisa dekat dengan satu-satunya Pencipta yang mampu menghilangkan kesedihan dan kepenatan hati?
Waktu udah waktunya Jumatan, seperti kemarin-kemarin, aku nunggu temen kantorku untuk barengan. Tapi entah kenapa, teman yang kutumpangi itu lama banget. Nggak pikir lama... kulepas rantai pengunci Fatboy, dan meluncurlah kita ke masjid di GKN!

Sayang, udah dua kali Jumatan ini aku nggak ketemu sama pengendara Santa Cruz/Intense/Polygon kemarin itu...

Kakakku mungkin bisa membaca keresahanku di sini, dan sesi ngobrol di telepon panjang lebar dengan kakakku benar-benar membantu memberi solusi. Hanya Allah yang bisa mengatur, soalnya entah kenapa kakakku yang jarang sekali SMS-an denganku itu bisa tahu-tahu nelepon, udah gitu lamaaaaaaa, lagi...
Intinya, sebetulnya keluargaku (termasuk keluarga istriku) mendukung apapun keputusan yang aku ambil. Termasuk bila aku kembali ke Jakarta, sambil menunggu panggilan kerja. Termasuk ibu mertuaku, yang malah dengan jelas menyuruhku pulang saja... cuma satu yang menjadi ganjalan, bisakah ibuku menerima keputusanku yang terkesan plin-plan ini? Apalagi karena dari awal ibuku tidak setuju, namun kemudian menyerahkan semua keputusan ke tanganku...

Sabtu, 19 April 2008.
Karena nggak ada yang bisa dilakukan lagi di kos-kosan, setelah makan malam meluncurlah aku bersama Fatboy. Nggak ada tujuan, cuma pengin night ride aja. Urban session. And we mean it. Chainring konstan di posisi 44T, terus berulang kali rantai hinggap dalam waktu yang cukup lama di sproket 11T! Sprint habis. Kulibas tikungan dengan gaya fast in-fast-out, out-of-saddle. Dan memang, beberapa kali aku nyalip motor dan mobil yang jalan (percaya apa enggak, orang Denpasar kalo bawa kendaraan bermotor emang pelan... seberapa kenceng sih, MTB fullsus dengan ban knobby 26x2,1 kalo digeber di aspal? No heart feelings, buat orang Denpasar...), dan beberapa kali juga orang yang kusalip nyusul lagi, ngelihatin aku mungkin sambil mikir, kenapa sih, orang ini? Hehehehe...
Paling seru, waktu tikungan terakhir sebelum masuk ke perempatan yang ke arah Panjer (jujur, karena nggak punya peta ya gini ini navigasinya, hehehe...), aku nikung pake teknik ngelibas berm yang baru aja kubaca di majalah. Pedal sejajar, karena belok ke kanan, pedal kanan di depan. Bobot ditumpukan ke sana sedikit, supaya tapak ban yang pinggir bisa bekerja maksimal. Badan dilempar ke belakang biar ban depan nggak kehilangan traksi. Wuih! Bikin orgasme, dah. Hehehe...
Cukup melegakan, karena memang hampir sebulan ini aku nggak jalan jauh, apalagi sampe sprinting kayak gitu. Tapi ya tetep, nggak bisa ngegantiin acara cengkrama-cengkrama sama temen-temen di Pasar Festival, dengan segala gelak tawa dan ide-ide baru yang keluar...

Hari Minggunya, segala keraguan sirna setelah akhirnya ibuku nelepon dan menyatakan dukungannya atas segala keputusanku. Makin legalah aku, dan makin bulat niatku untuk pulang...

22 April. Segala niatan dikuatkan, berbekal keyakinan bahwa apapun yang terjadi Allah selalu bersamaku, aku ngomong ke direktur. Kuajukan juga surat pengunduran diriku. Alhamdulillah... Allah memang Maha Besar, Maha Pemurah, dan Maha Pengampun... Segala kemudahan memang datangnya hanya dari Allah...
Semoga semua pelajaran yang kudapat selama sebulan di tanah di mana jarang sekali kudengar adzan berkumandang ini, tetap berbekas dan melekat di hati... dan semoga dengan kembalinya aku ke Jakarta nggak menjauhkanku dari Allah. Amiiiiiin...

Siang hari, 23 April. Aku sampe ke suatu kesimpulan sok-filosofis: Life is a race on a singletrack. A singletrack so tight, that you just can't turn back. Just move forward.
Start line dan finish line-nya udah ditentukan sejak awal oleh Sang Maha Penentu. Serta tikungan-tikungan, tanjakan dan turunan, lubang dan gundukan, serta percabangan jalur. Semua sudah ditentukan sejak awal. Kita tinggal menjalaninya saja.
Yang kita tentukan sendiri, adalah racing line yang kita ambil. Waktu ketemu turunan, apakah kita mau ambil full-on, atau TTB aja? Waktu ketemu lubang, mau di-bunny hop atau kita ambil chicken line aja? Kita libas tikungan dengan fast-in-fast-out, atau skidding, atau manfaatkan berm yang ada?
Kemudian soal percabangan trek. Mau ambil ke kiri, atau ke kanan?
Apapun trek yang kita pilih, hambatan, rintangan dan tantangan yang ada di trek itu semua udah ditentukan sejak awal. Yang kita tentukan sendiri, adalah bagaimana kita menghadapinya... dan kita harus tetap nggenjot, apapun yang terjadi. "Life is like riding a bicycle... to keep balance, we just have to keep moving forward," a friend of mine once said. Cepat atau lambat, kita akan temui tanjakan panjang yang sudah menunggu di depan, atau turunan switchback setelah rimbunan pohon. Kita nggak akan pernah tahu apa yang ada di depan, sampai kita melihatnya. Setelah melihatnya, di situlah kita tentukan... dengan cara apa kita hadapi trek itu?
Tapi tetep aja, apapun yang terjadi, kita harus tetap maju... karena kita nggak bisa kembali, kita nggak bisa lama-lama berhenti.
Waktu nanjak, pegal di betis dan paha memang sangat menyiksa. Di turunan, rasa was-was kalo sewaktu-waktu ban kehilangan grip memang ada. Tapi setelah kita lolos dari tantangan itu... betapa lega rasanya, bukan?
Namun perlu diingat. Yang membuat kita mampu melewati segala tantangan, bukanlah dari diri kita. Segala kemudahan datangnya dari Allah, begitu pula dengan segala kesusahan. Dan hanya Allah yang mampu mengangkat keduanya dari kita. Ingatlah hal itu... agar kita tidak terlalu bangga setelah berhasil melewati tanjakan, dan tidak menyadari adanya drop-off di depan. Dan ingatlah bahwa setelah tanjakan pasti ada turunan... sehingga janganlah terlalu banyak meratapi betis dan paha yang terasa terbakar saat nanjak.
And everything happens for a reason. Every obstacles you faced... if they don't kill you, they'll just make you stronger. Mungkin dengan "dibuangnya" aku ke Bali, ada waktu untuk vakum dan berpikir. Dan untukku, momen ini mungkin sebagai saatnya aku berusaha mendekatkan diri kepada Allah. Dan bertemu muka langsung dengan Sang Abang Jampanx (http://jampanx.multiply.com) yang banyak memberi pencerahan dan cara pandang baru dalam hidup...

Ada kabar baru: sepedanya Om Hanggar, temenku di Bantul yang dulu nitip beliin Patrol sama aku, udah jadi. Ini dia bentuknya...

Tenan, lho. Pertama kali lihat Si Coklat Putih, kebayang satu hal... pernah lihat di mana, ya?
Terus waktu tadi malem sebelum tidur buka-buka MBUK Januari 2008, terjawab sudah. Ada sepeda tester/kolumnis MBUK, Guy Kesteven. Marin Mount Vision.
Ini fotonya waktu masih standar, waktu pertama kali dipinjemin sama Marin buat di-review.

Lha ternyata, si Kesteven ngerasa sayang kalo harus ngebalikin sepeda ini ke Marin. Jadi ya nggak dibalikin. Enak banget ya, jadi wartawan majalah sepeda...
Nah, selanjutnya dimulailah diubah sana-sini. Namanya juga sepeda yang dijadiin test rig (buat dibongkar pasang untuk nge-review produk), jadinya banyak yang diubah-ubah. Wheelset pake DT Swiss EX1750, sadel fi:zi'k Alliante putih, terus banyak lagi. Yang seru, orang-orang di Blackbox Project-nya SRAM ngirimin satu set Avid Juicy Ultimate Carbon, yang brakelever-nya dikasih tulisan "KESTEVEN", bukan "BLACKBOX" kayak biasanya. Orang-orang di Blackbox Project emang lagi suka iseng begini, semua atlet yang disponsorin SRAM pasti dapet brakelever custom begini. Warna Juicy Ultimate ini... putih semua!
Nah, terus ngerembet ke mana-mana itu, Fox TALAS putih, sadel putih, EX1750-nya pun juga putih. Wah. Tema "whitewash"-nya mirip, nih. Yang seru, pedalnya. Crankbrothers Mallet Mag, MERAH!
Persis, deh!

Minggu, 27 April. Jalan ke GWK bareng Om Ketut "nyenkaden". Kirain hari ini sesi DH-nya, ternyata XC. Well, OK. Seru juga, sih.
Tapi yang seru adalah bisa ketemu langsung sama Andreas Kuhn, pemilik Bali Mountain Bike yang jadi dealer Banshee di Indonesia. Wah! Orangnya ramah banget. Baru kenal aja kita langsung ngobrol banyak, terlebih setelah aku ngenalin diri sebagai "the one with lots of retro-stuff posts", hehehe. Langsung deh ngalir semua... cerita tentang singlespeeder, 9-speeder, cyclocross... everything. He's the kind of guy who likes to build good relationships with other people. Nice. Oh yeah, he can also ride downhill, too. I mean, he CAN. Really fast. Kemarin dia menang Urban DH kelas Master C...
Ngobrol banyak banget. Akhirnya tuker-tukeran email. Wah, seru, dah.
Terus ditraktir ikan bakar sama Om Ketut. Waaaaah, makasih Om...
Sorenya, diajak jalan ke Sanur. Beuh. Macet berat, pantainya penuh. Ya udah, balik lagi. akhirnya cuma muter-muter Renon lagi.
Nyobain Banshee Rune-nya Om Ketut. Busyet, dah. Yang namanya Fox F32 140RLC itu enak banget, ya. Udah gitu brakeset-nya brakeset idaman... Deore XT 2008. Stoppie pake sepeda segitu gedenya (maklum, jatah AM/FR... 6-inch bike!) cukup satu jari. Lucunya, Rune ini nggak ada FD-nya... cable-stop-nya lupa dipasang dari pabrik!

Sialnya, di sini bladder-ku bocor lagi. HP-ku kerendam. Basah semua. Jadinya ya itu, fotonya jadi aneh... sama sekarang jadi error.
Makasih buat Om Ketut atas jamuannya hari ini...

Senin terakhir di kantor. Asistensi. Browsing. Chatting... akhir-akhir ini kok aku jadi aktif di YM, ya?
Terus Pak Joni, temen sekantor, bawain CD. Katanya film sepeda. Wuih! Ternyata New World Disorder IV, Manifesto-nya Ryan Leech, sama Suspect MTB. Seru!
Oleh-olehnya nambah. Hehehehehehe... 

Posted at 08:41 pm by rangga_phreak

 

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments




Previous Entry Home Next Entry

Blogdrive