Sunday, January 04, 2009
week35: pivot points

Rabu, 31 Desember 2008
no ride
Beberapa hari yang lalu aku nitip beliin RD Deore XT M739 sama Om Hendry. Barangnya sendiri ada di Bandung, kebetulan Om Hendry lagi liburan ke sana.
Jadi deh, kita kembaran RD. Hehehe.
Siang ini, setelah ngambil file ke sekolah istriku, kita mampir sejenak ke kantor Om Hendry untuk ngambil RD. Setelahnya kita ke Fatmawati, beli cantilever brake set. Lumayan, dapet satu set (depan-belakang) Deore LX lawas (BR-M565), dari kode produksinya ketauan kalo bikinan '94.
Oh iya, Reyhan udah agak mendingan. Batuknya cuma kalo pagi-pagi. Seharian dia keliatan lemes gitu, tapi mungkin itu karena obat batuknya.
Dan sisa hari (dan tahun 2008) kuhabiskan dengan mengira-ngira posisi brake pivot yang pas sebelum nantinya dilas. Dengan ini berarti aku harus ngecat lagi, tapi nggak papa lah. Demi safety. Daripada ngerem pake pantat metromini...
Malemnya, aku nggak bisa tidur. Pertama, karena nunggu download film. Kedua, karena tetanggaku nggak ada henti-hentinya nyalain kembang api.
Dan saat itu pun datang juga, seluruh Jakarta serentak nyalain kembang api. Mulai dari yang ecek-ecek beli di pinggir jalan, sampe yang ngedatengin ahli pyrotechnic khusus. Berisik di telinga, tapi memukau di mata.
Jadi inget malam tahun baru 2006, waktu aku masih sendirian di kontrakan. Bisingnya bukan main. Aku males keluar untuk ngelihat, karena percuma juga... nggak kelihatan, kan. Malam tahun baru 2007 kulewatkan di perjalanan dari Malang ke Jakarta, dan tahun depannya aku lewatkan begitu saja. Tidur!
Baru tahun inilah aku bisa lihat pesta bakar-bakar uang tahunan ini dari balkon rumah.
Kebayang pemandangan di saat yang sama dengan sekarang, tapi di Jalur Gaza di Palestina. Ada kebyar-kebyar di angkasanya dan bunyi letusan-letusan yang mirip, bedanya di sana cahaya yang menerangi langit malam berasal dari sisa-sisa bangunan yang terbakar dan jejak yang ditinggalkan roket atau rudal, dan setiap dentuman berarti ada satu lagi bangunan yang meledak, dan ada lagi korban jiwa yang jatuh.
Aku nggak habis pikir, gimana bisa ada yang bakar-bakar uang di sini sementara di sana banyak orang yang tiap detiknya selalu dibayangi kekhawatiran untuk terpisah dari orang-orang yang mereka cintai?
Bukan bermaksud pesimis... hanya mencoba untuk sedikit berempati.
Dan tanggal 1 Januari 2009 pun kumasuki dengan kantuk yang akhirnya sudi untuk singgah setelah jam 3 pagi, dan tambahan beban di pikiran.
No celebration here, guys.

Jumat, 2 Januari 2009
few ride (and walk) to the weld shop with Frankie
I managed to punch a hole on Frankie's rear tire.

Ceritanya, ban belakang yang udah sangat tipis itu akhirnya menemui ajalnya setelah aku melakukan sebuah pengereman panjang yang membuat ban belakang itu terseret sejauh 8 meter di aspal. Sepedanya sih berhenti akhirnya, dengan umpatan.
Bannya bolong, tembus ke ban dalamnya!
Ah, sudah lah... mungkin ban belakang sering keseret karena rem depannya nggak pakem. Jadinya kalo mau berhenti ya maksa...
Akhirnya sih brake pivot belakang kepasang juga di seatstay, dengan tambahan cable stop-nya yang harus digeser ke atas biar nggak mentok ke cable yoke saat ngerem.

Setelah ngecat, kerjaanku nambah lagi... pergi ke tukang tambal ban untuk nambal ban dalam yang bolong sebesar 5mm itu. Terus nambahin potongan bekas botol plastik buat nambal ban luarnya, supaya ban dalamnya nggak nonjol keluar. Makanya di tengah lubang di foto atas itu ada plastiknya.
Nambah lagi deh, belanjaannya.

Sabtu, 3 Januari 2009
Lagi-lagi ke tukang las. Sialnya, tukang las langgananku malah tutup. Wah, padahal kerjaannya rapi. Akhirnya pergi ke tukang las lain yang, sialnya, kerjaannya nggak serapi langgananku.
Lebih apes lagi, aku matahin baut di dalam pivot yang sebelah kiri. Sial. Akhirnya pivot-nya kupotong lagi, terus ngambil pivot baru yang dikanibal dari salah satu fork bekas yang ada di rumah. Hhhhhhhh.
Pindah tukang las lagi, soalnya tukang las yang tadi pagi cuma buka setengah hari. Celakanya, tukang las yang ketiga ini malah lebih parah lagi kerjaannya... akhirnya aku yang kerja keras ngerapiin bekas las-lasan pake kikir.
Dan ada satu yang kelupaan: cable stop untuk rem depan! Aduh. Harus nyari dulu, nih...

Minggu, 4 Januari 2009
Akhirnya setelah separuh siang kuhabiskan dengan bermain bersama Reyhan yang sekarang udah nggak batuk (asyiiiiik...), aku berangkat juga nyari cable stop. Duh, Reyhan dan istriku memang alasan yang baik untuk nggak meninggalkan rumah...
Nyetir ke D'Best, Fatmawati. Nyetir? Iya, siang ini memang panas banget. Sama kayak beberapa hari sebelumnya, langit Jakarta luar biasa biru! Terik dah.
Dan siang ini aku nyesel kenapa bawa mobil.
Kemarin, aki mobilku dipinjem adikku buat nyalain mobilnya, karena aki mobilnya soak. Dan ternyata aki mobilku pun nggak lebih baik, karena mobilnya akhirnya nggak bisa distarter lagi waktu dibawa pergi. Terpaksalah dia beli aki baru, dan aki mobilku dibalikin lagi. "Aki mobilmu juga soak lho, Mas," kata adikku memperingatkan.
Karena ternyata mobilku bisa distarter, aku langsung aja ngeloyor pergi ke Fatmawati.
Dan ternyata bener, waktu aku mau jalan lagi setelah nggak nemuin cable stop di D'Best, mobilku sama sekali nggak bisa distarter.
Damn.
Beberapa saat kemudian aku udah jalan kaki di sepanjang trotoar Jl. Fatmawati, panas-panas, berharap ada toko aki yang buka. Alhamdulillah aku mogok di sekitar sini, yang terkenal sebagai salah satu pusat jual beli onderdil mobil. Tapi ini kan hari Minggu...
Alhamdulillah, ada yang buka. Penjaga tokonya malah nganterin aku balik ke D'Best naik motor, dan mau masangin akinya sekalian.
Eh, sewaktu mendekati tempat parkirku... kok itu ada Katana putih yang biasa mampir di rumahku? Bener aja, nggak lama kemudian aku udah salaman sama Om Hendry. Kok bisa ya, ketemu di sini... "Iya, aku nganterin istriku ngebenerin HP, terus lihat mobilmu di situ," katanya.
Habis itu kita ngobrol-ngobrol, melototin seluruh isi etalase toko... dan nemuin FD XT lama, FD-M737. Clamp 34,9mm. Bisa nih... tapi mungkin nanti lah, kalo udah ada duit. Selain itu ada juga FD Shimano STX, tapi kayaknya nggak berhasil membangkitkan minat. Iya, kan udah punya LX yang nggak kalah jadulnya...
Habis itu ke Kebayoran, dan cable stop yang kucari tetep nggak ketemu. Halah. Kalo gini sih berarti harus bikin sendiri...
Mampir bentar ke Pondok Indah, beli ban dalam buat ngegantiin yang kepasang di Frankie. Sama sepasang pad buat cantilever brake (sial, ternyata 3 dari 4 brakepad LX yang kubeli adalah buat rem depan!). Ban luarnya nggak ada di sini... jadinya sebelum pulang aku jalan dulu ke SCBD, untungnya di sini ada.
Sesampainya di rumah, udah jam 4 sore. Ah, mau ngelas juga udah nggak sempat... besok aja kali, ya.

Posted at 07:12 pm by rangga_phreak

 

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments




Previous Entry Home Next Entry

Blogdrive